Gatra Dewata

Ringan, Cerdas dan Tajam

PSN Densel Gelar Upacara Pengepah Ayu di Ikuti 337 Peserta

GATRADEWATA.COM||DENPASAR, – Atas banyaknya permintaan masyarakat tentang upakara Pengepah Ayu Dhanda Bharuna, Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Lapangan Kecamatan Denpasar Selatan (Densel) menyelenggarakan upacara Pengepah Ayu sinarengan atau massal. Upacara yang diikuti 337 peserta ini diadakan di Pantai Mertasari, Desa Sanur Kauh, Denpasar, Sabtu (13/4).

Pinandita I Wayan Dodi Ariyanta selaku Koordinator Acara menyampaikan, upacara Pengepah Ayu terdiri dari upacara Warak Kruron, Ngelangkir, dan Ngelungah. Upacara Warak Keruron adalah upacara untuk menghilangkan hal-hal negatif seperti sakit, ketidakharmonisan dalam keluarga, pekerjaan, dan lain-lain akibat keguguran/menggugurkan kandungan, dimana calon bayi masih berbentuk darah. Upacara Ngelangkir adalah upacara pembersihan untuk bayi yang sudah berbentuk sampai bayi tersebut lahir tetapi belum kepus pungsed (lepas pusar). Sedangkan upacara Ngelungah adalah upacara untuk bayi yang meninggal sudah lepas pusar, tetapi belum ketus gigi (tanggal gigi).

“Tujuan utama pelaksanaan upacara ini adalah untuk membersihkan Bhuwana Agung dari hal negatif karena suksma sarira yang belum diupacarai dan Bhuwana alit trauma sang ibu dan ayah akibat keguguran dan kehilangan bayi,” ujarnya.

Pelaksanaan upacara Pengepah Ayu hanya berlangsung sehari saja. Rangakaian upacara ini dipuput tiga sulinggih yakni Ida Pedanda Nabe Bang Buruan Manuaba (Ketua Dharma Adhyaksa PHDI Pusat), Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Sri Satya Jyoti, dan Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yoga Putra.

Lebih lanjut Pinandita Dodi Ariyanta menjelaskan, prosesi upacara diawali dengan ngulapin bagi suksma sarira sang bayi di perempatan agung dengan menggunakan sarana sangga urip. Dilanjutkan dengan upasaksi dipimpin oleh sang sulinggih. Setelah itu, prosesi ngedetin sang atma, menghaturkan tarpana dan ngerastitiang, diakhiri doa bersama oleh peserta.

Setelah semua prosesi tersebut selesai, bagi peserta Warak Keruron diberikan penglukatan untuk menghilangkan trauma pasca keguguran. Akhir prosesi ini dilaksanakan upacara ngeseng atau pembakaran adegan dan nganyut ke segara (pantai). Peserta untuk Warak Keruron diberikan tirta caru dan penglukatan sebagai sarana pembersihan di pekarangan rumah.

“Untuk tirta pengentas saat prosesi ngeseng hanya diberikan untuk upacara Ngelungah. Dan upacara ngelinggihang tidak dilaksanakan karena bayi dianggap belum memiliki karma wasana di dunia ini,” ucapnya. ( INN.W/ Raka)