Lontar ratuning usada.

 

Keunikan Lontar “Ratuning Usada”

Mulai dari Diagnosa Penya9kit hingga Visualisasi Penyebab Penyakit

GATRADEWATA.COM||DENPASAR – Lontar Usada “Ratuning Usada” koleksi Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana (Unud) menjelaskan metode diagnosa penyakit, pengobatan, hingga visualisasi penyebab penyakit yang diderita pasien. Naskah yang cukup tebal itu terbilang unik, karena jarang ditemui dalam teks sejenis.

Petugas Pusat Kajian Lontar Unud, Putu Eka Guna Yasa belum lama ini menjelaskan naskah tersebut dimulai dengan pemaparan etika-etika seorang balian usada (pengobat tradisional). Seorang balian sebelum melakukan praktik pengobatan dituntut mengetahui pengobatan Buda Kecapi dan mengetahui hakekat aksara. Jika belum menguasai hal tersebut, seseorang pantang mempraktikkan, sebab tidak akan berhasil, ada resiko dalam mempraktikkannya.

“Orang yang ingin mempraktrikkan harus tahu aksara, tahu tata cara membaca, menguasai pengetahuan Ganta Pinarapitu, Sastra Sanga, dan Boda Kacapi. Tidak boleh menentang, ada hal yang besar terjadi pada hidup-mati yang mempraktikkan,” kata Guna membacakan lontar tersebut.

Ia meneruskan, ketika seorang telah mengetahui Sastra Sanga, Boda Kacapi, Ganta Panarapitu diperkenankan membaca dan mempraktikkan ajaran lontar “Ratuning Usada” tersebut. Berbekal pengatahuan pada teks tersebut, seorang bisa mengetahui keadaan orang yang sakit melalui proses diagnosa bayu-salam(panas-dingin tubuh) tubuh pasien.

“Cara mendiagnosanya dengan mengetahui bayu salam (panas-dingin) tubuh melalui mata, carma (kulit), dandharma. Melalui diagnosa ini dapat mengetahui hidup mati seseorang,” terang Guna.

Salah satu contoh, diagnosa pasien yang mengalami panas dapat dilakukan dengan melihat mata pasien. Apabila terlihat urat-urat mata agatra rah (urat mata memerah)artinya pasien menderita panas. Jika anak bola matanya (retina) yang hitam menjadi kecoklatan, pasien juga terindikasi mengalami panas.

Sumber panas disebutkan berada pada otot dan dagingnya, pada bagian tersebut ada udara yang tersumbat yang bertempat di padamaran, sementara panas disebabkan oleh Ireweh. “Untuk menyembuhkannya terdapat ramuan dengan metode pengolahan tertentu. Di sini kita kembali terkendala pada pemahaman bahasa, banyak tanaman yang disebutkan teks sangat asing, juga diungkapkan berupa perumpamaan,” jelasnya.

Selain menyebutkan tata cara pengobatan, teks tersebut juga berupaya memvisualkan penyebab penyakit yang diderita pasien. Penggambaran penyakit dominan digambarkan dalam wujud yang menakutkan, baik dalam wujud raksasa,buta kala, hingga binatang seperti singa dan lainnya.

Sebagai contoh visualisasi penyebab salah satu penyakit adalah Siwa Wangkawa yang bertempat di dalem soring ineban (sekat rongga badan). Dalam teks, digambarkan memiliki mata yang bersinar, rambut berwarna hijau, dan perwujudannya hitam.

“Jika kita bandingkan dengan sistem pengetahuan modern, teks ini memilikipengetahuan anatomi. Kita bisa menebak, mungkin saja yang digambarkan adalah semacam virus atau bakteri pada pengetahuan kedokteran modern,” terangnya sembari mengatakan teks ini layak dijadikan pembanding ilmu kedokteran modern. ( Ean)…INN.W