Hindari Pengulangan yang Membosankan Dengan Mengaplikasikan Personal Pronoun (Subjective)

Personal Pro

GatraDewata.Com| 01 Februari 2018. Pronoun atau ‘kata ganti’ sangat di perlukan dalam percakapan sehari hari. Kita tidak menyebut nama orang atau benda itu berulang kali sehingga terdengar monoton. Kalau namanya seksi mungkin kita akan suka memanggilnya. Tapi kalau jelek, bisa – bisa kita menghindari untuk menyebutnya.

Dalam bahasa Inggris kita mengenal sekitar lima pronoun yang paling umum digunakan, yaitu: Subjective, Objective, Possesive, Possesive Adjective dan Reflective Pronoun.  Saat ini kita akan bahas satu pronoun dulu yang tidak lain adalah SUBJECTIVE PRONOUN, yaitu, kata ganti orang sebagai ‘subjek.’

Kadang kadang, ada beberapa orang di sekitar kita yang entah sok imut atau benar – benar tidak mengerti bagaimana penggunaan ‘kata ganti’. Ia kerap menyatakan namanya sendiri secara utuh alih – alih menggantinya dengan subjective pronoun – ‘saya.’

Amati contoh percakapan berikut!

Made          : “Pak, Made mau ambil cuti besok, boleh ga?” kata made kepada atasannya

Boss           : “Bilang sama Made untuk mengisi formulir cuti ya.” jawab si bos

Made          : Iya, pak. Tapi ini untuk saya kok” ucapnya seraya meyakinkan bahwa Made

adalah dirinya sendiri.

Nah, andaikata Made tahu fungsi pronoun (kata ganti) dan menggunakannya dengan baik maka mereka akan lebih hemat dengan kata – kata dan, tentunya, waktu. Si bos tidak perlu lagi menyangka bahwa Made adalah orang ke tiga.

Jadi, semestinya Made berkata: “Pak, saya mau ambil cuti besok, boleh ga?” – ‘saya’ dalam kalimat tersebut merupakan Subject Pronoun (kata ganti orang pertama tunggal – lihat tabel diatas)

Bagaimana cara membaca tabelnya?

  • Untuk orang bentuk pertama tunggal Subjective Pronounnya adalah ‘I’
  • Untuk orang bentuk kedua tunggal Subjective Pronounnya adalah ‘You’
  • Untuk orang bentuk ketiga tunggal Subjective Pronounnya adalah ‘He, She dan It’

Mau contoh lagi?

Nyoman is working in a hotel near the airport. Sometime Nyoman works in the morning but most of the time in the evening. Since the traffic is normally slow Nyoman prefers to go to work by Gojek instead of driving his new Ferrari.

Sekarang coba perhatikan ada berapa kali nama Nyoman sebagai orang pertama tunggal disebutkan dalam paragraf diatas. Tidakkah membosankan mendengar kata Nyoman berulang kali dalam tiga kalimat saja? Sekarang mari kita lihat bedanya ketika menggunakan jasa Subjective Pronoun secara benar!

Nyoman is working in a hotel near the airport. Sometime he works in the morning but most of the time in the evening. Since the traffic is normally slow he prefers to go to work by Gojek instead of driving his new Ferrari.

Terdengar seksi, bukan? Berita bagusnya, tidak ada esensi cerita yang terbuang secuilpun. Suer, deh!

Lantas dimana kedudukan Subjective Pronoun dalam ilmu bahasa?

Siapapun yang berperan sebagai Subject harusnya bangga karena ia berkedudukan sebagai pelaku atas sebuah object.

Contoh lagi: Nyoman killed his dog last weekend (Nyoman membunuh anjingnya akhir pekan lalu). Terlepas dari kejahatan yang ia lakukan, Nyoman (sebagai Subjective Pronoun) mengambil kedudukan sebagi pelaku atas sebuah pembunuhan, bukan sebaliknya sebagai korban.<swn>