Gatra Dewata

Ringan, Cerdas dan Tajam

BPJ Ajak Generasi Muda Mengenal Tiga Tatanan Wilayah Rohani Bali

GATRADEWATA.COM||DENPASAR, 27 April 2019.Dalam rangka pelaksanaan pameran “Situs Ritus Tatanan Peradaban Bali Tua” di Denpasar Art Space (DAS), Yayasan Bakti Pertiwi Jati (BPJ) juga mengadakan Kelas Budaya bertajuk “Tatanan Rohani Bali” pada Sabtu (27/4). Melalui kelas budaya ini BPJ mengajak masyarakat khususnya para generasi muda untuk mengenal kembali konsep tiga wilayah rohani yang menjadi dasar pemujaan di Bali.

Salah seorang narasumber, Jro Mangku Sara memaparkan, Surya Candra, Lintang Tranggana (Matahari, Bulan, dan Bintang) adalah konsep tiga wilayah rohani dari tiga gunung yang dipuja di Bali, yaitu Batukaru sebagai pemujaan Surya (Maha Awidya), Gunung Agung sebagai pemujaan Candra (Maha Agung), dan Gunung Batur sebagai pemujaan Lintang Tranggana (Maha Rata). “Tiga gunung tersebut sejatinya merupakan dasar spirit pemujaan masyarakat Bali,” ucapnya.

Lebih jauh dijelaskan, dari konsep Surya Candra Lintang Tranggana ini kemudian menjadi dasar adanya Kahyangan Tiga, yakni Kahyangan Dalem, Kahyangan Puseh, dan Kahyangan Desa. Jro Mangku Sara mengungkapkan, saat ini terjadi penyeragaman dimana setiap desa pakraman disyaratkan harus memiliki Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem. Padahal Dalem, Puseh, Desa itu sebenarnya bukanlah nama pura, melainkan adalah fungsi pura.

“Antara pura yang satu dengan yang lainnya sebenarnya tidak memiliki kesamaan, namun sekarang terjadi penyeragaman. Untuk itu, perlu dikenalkan kembali tatanan rohani Bali khususnya kepada generasi muda Bali yang akan mewarisi situs dan ritus dari pura-pura tersebut,” ucapnya.

Narasumber lainnya, Kadek Wahyudita menambahkan, karena kurangnya pemahaman akan tiga wilayah rohani Bali, maka saat ini begitu gampang terjadi perubahan tatanan pelinggih-pelinggih di pura, mengganti nama pura, atau meniadakan ritus yang seharusnya dilakukan. “Banyak terjadi ketidakselaran antara nama pura, isi di dalamnya, dan cara pemujaannya,” ujarnya.

Wahyudita menjelaskan, jika dasar spirit pemujaan tersebut dipahami dengan baik, maka tidak akan terjadi pembongkaran situs pura kuno dengan dalih perbaikan. Sebaliknya, masyarakat akan melakukan pemugaran dengan mempertahankan keaslian bentuk dan bahan bangunannya atau restorasi. Proses pemugaran yang demikian sebetulnya sudah dikenal di Bali dengan istilah “ngayum” yang berarti memperbaiki yang rusak saja.

Kelas budaya yang disajikan dalam bentuk diskusi ini berlangsung hangat, dan para peserta pun cukup antusias. Seorang mahasiswa Unhi mengatakan, sangat jarang melihat pelinggih atau pura seperti dalam foto-foto yang dipamerkan. Ia juga mengaku tidak pernah mendapat pemahaman tentang fungsi atau makna dari pelinggih-pelinggih yang ada dengan berbagai jenis bentuk dan ornamennya.

“Kami ingin mempertahankan, tetapi justru terkadang kakek, orang tua kami memiliki keinginan untuk membongkar pelinggih-pelinggih yang ada untuk menggantinya dengan yang baru supaya puranya bagus. Ini tantangannya, bagaimana menyadarkan,” ucap mahasiswa asal Tabanan tersebut.

Sementara itu, Wakil Rektor III Unhi, Dr. Ir. I Wayan Muka, ST, MT menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pameran dan kelas budaya yang digelar Yayasan BPJ. Menurutnya, melalui kegiatan seperti ini sangat bagus untuk mengajak generasi muda mendalami warisan leluhur Bali, mengikis pemahaman “mula keto” sehingga situs dan ritus yang ada tetap lestari. “Diskusi seperti ini sehari saja tentu tidak cukup. Perlu ada diskusi-diskusi lanjutan dan rutin dilaksanakan ke depan,” katanya. ( INN.W/ Gede)