Connect with us

Pariwisata dan Budaya

Audensi Yayasan Bakti Pertiwi Jati dengan Wakil Bupati Tabanan

Published

on


GATRADEWATA.COM||
Wakil Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, SE.,MM., Senin (18/3) di ruang kerjanya menerima audiensi pengurus Yayasan Bakti Pertiwi Jati (BPJ). Adapun pengurus BPJ yang menghadap orang nomer dua di Tabanan tersebut dipimpin langsung keduanya I Made Bakti Wiasa didampingi pengawas Mangku Made Sara Yoga, dua seniman kawasan Tabanan yakni I Nyoman “Sengap” Ardika dan Putu “Ajus” Purnawan serta beberapa pengurus BPJ lainnya.

Dihadapan orang dua di Tabanan tersebut ketua Yayasan BPJ I Made Bakti Wiasa mengungkapkan tentang keberadaan dan aktivitas yayasan yang dipimpinnya. Yakni mengkampanyekan pelestarian warisan – warisan budaya leluhur. Terutama warisan berupa bangunan-bangunan fisik.

Bhakti Wiasa menjelaskan, adapun tujuan utama dari kampanye dan upaya pelestarian warisan budaya leluhur terutama warisan dalam bentuk bangunan fisik atau situs ini tiada lain karena dalam warisan-warisan tersebut memuat sejarah panjang. Selain juga memuat pesan-pesan tertentu dari jamannya yang semestinya dimaknai atau sebagai bahan pembelajaran bagi generasi kini dan generasi-generasi berikutnya.

Senada dengan Bakti Wiasa, penasehat Yayasan BPJ Mangku Made Sara Yoga menyebutkan bahwa keberadaan BPJ secara kongkrit ingin mengajak semeton Bali untuk menghargai jejak bijak leluhur Bali melalui situs-situs yang masih ada. Terkait dengan ini ia berharap agar semeton Bali tidak gampang menghancurkan bangunan kuno terutama pura-pura yang bangunan pelinggihnya berusia tua hanya karena alasan renovasi semata.

Mangku Sara Yoga juga menyoroti tentang kegigihan semeton Bali dalam menggelar ritual atau meyadnya. Namun ia menyayangkan dibalik kegigihannya meyadnya tersebut terkesan kurang diimbangi dengan penguatan tatwa.

“Rekontruksi warisan budaya leluhur ini sangat keren,” puji Wabup Dr. Sanjaya terhadap keberadaan dan fokus kegiatan yang dilakukan pengurus BPJ.

Wabup Dr. Sanjaya mengatakan ibarat kue, sejarah perjalanan Bali seperti sepotong kue lapis. Yakni jaman pra sejarah hingga jaman penjajahan dan beberapa masa lainnya. Pada masa penjajahan tersebut ada banyak nilai sejarah yang hilang atau terpotong.

“Saya lihat, BPJ ini memiliki misi yang luar biasa untuk mengembalikan nilai-nilai sejarah Bali yang telah terlupakan. Saya sangat mendukung misi BPJ ini,” sebutnya.

Sebagai bentuk dukungannya tersebut, Wabup Dr. Sanjaya siap bekerja sama dengan BPJ untuk menggelar kegiatannya di Tabanan. Bahkan orang nomer dua di Bumi Lumbung Beras ini juga siap mensuport kegiatan pameran yang digelar BPJ di Denpasar pada bulan April nanti.
Sumber: balipuspanews
( INN.W)


Daerah

PEWINTENAN MASSAL DI PURA AGUNG LOKANATHA DIPUPUT OLEH TIGA SULINGGIH

Published

on

 

Gatra Dewata | Denpasar | Setelah merampungkan pelatihan Brahma Widya sejumlah 170 calon Pinanditha diwinten massal.

Brahma Widya berdasarkan Veda disini adalah pengetahuan tentang kesejatian Tuhan (Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Waça) dalam segala aspek-Nya yang dalam pengantar agama Hindu, Brahma Widya disebutkan pemujaanNya dilakukan dengan dua model,

Trancendental, Nirguna Brahman (Impersonal God):
Sang Hyang Widhi Waça dipuja/dihayati dalam posisi “acintya rūpa” (tak terpikirkan)

Immanen, Saguna Brahman (Personal God):
Sang Hyang Widhi Waça dipuja/dihayati dalam posisi berwujud sehingga dapat dijangkau oleh rasa atau daya pikir manusia.

Acara ini adalah merupakan acara selanjutnya setelah mengikuti pelatihan teologi Hindu Brahma Widya angkatan ketiga sejak 4 Mei 2019 hingga 9 Februari 2020, sebanyak 170 peserta calon Pinandhita mengikuti pawintenan massal di pura Agung Lokanatha Lumintang, Minggu, (23/02).

Pawintenan ini dipuput oleh tiga sulinggih, yaitu dari 3 gegelaran sulinggih yang di sebut Tri Sadhaka atau Sang Katrini, Pandita Ciwa, Pandita Boda, Pandita Bhujangga.

I Wayan Dody Arianta selaku ketua panitia menjelaskan bahwa tujuan dari kursus ini adalah unyuk meningkatkan pengetahuan dan keyakinan umat Hindu secara benar di seluruh Bali, yang dipahami seperti kasus pelinggih isi toilet baru-baru ini.

Kursus yang sudah ketiga kalinya ini merupakan kerjasama antara Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil Bali dengan PHDI Provinsi Bali.

Dari Kursus yang pertama didapatkan 137 peserta yang mendaftar dan ikut tetapi yang ikut sampai selesai dan dinyatakan lulus hanya 130 peserta saja.

Materi yang diberikan adalah samskrtam dasar, nyurat kajang, itihasa, purana, reformasi ritual, Siwa sidhanta, modre, krya Patra, wariga dasar, Dharma Wacana dan semua yang menyangkut dalam acara agama Hindu yang benar, yang dilaksanakan setiap sabtu dan minggu selama 9 bulan (100 jam belajar)

Dengan diadakannya acara ini setelah pewintenan berlangsung, peserta kursus diharapkan mampu menerapkan Ilmu yang telah didapat dalam kursus ini untuk dipraktekkan di masyarakat agar masayarakat mampu memahami sastra agama Hindu secara benar, berguna juga untuk diri sendiri dan juga keluarga, yang tentunya melahirkan Pinandita atau Sulinggih yang paham dan menguasai isi sastra agama Hindu.

Ida Pandita Mpu Acharya Nanda juga menuturkan dalam Dharma Wacananya yang menyebut bahwa, “Pawintenan berasal dari kata Inten yang berarti permata, soca, dan suci, jadi pewintenan merupakan upacara yang suci yang berguna juga untuk mensucikan diri”.

Dalam wacananya beliau juga menjelaskan bahwa Hindu merupakan agama yang logis, agama yang tidak klenik dan sesuai dengan perkembangan jaman, “Bila kita mau memuja ciwa yang pertama adalah Gana Kumara lah yang engkau puja, makanya dalam bebantenan nika ada namanya pulagembal, atau saya mengartikan adalah Pologembal, kembangkanlah otakmu maka agen perubahan dalam diri manusia adalah otaknya, ” ungkapnya.

Dan Beliau juga berpesan agar setelah ini, para Pinandita baru bisa menjelaskan dengan baik dan bijak kepada masyarakat terutama tentang kejadian wangsit yang diterima suatu keluarga yang meletakkan toilet didalam areal suci mereka.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar IGS Ngurah Bagus Mataram menyebut, kegiatan yang dilaksanakan PSN ini sangat sesuai visi kota Denpasar, penguatan jati diri masyarakat kota Denpasar berlandaskan kebudayaan tertuang dalam Peraturan Daerah.

“ Kami mengapresiasi kegiatan seperti ini, Denpasar sebagai kota yang berwawasan budaya, tentu patut menjaga dan melaksanakan nilai-nilai budaya dan keagamaan yang kita lestarikan dan jaga,” jelasnya dalam sambutan saat berlangsungnya acara pawintenan. (Ray)

Continue Reading

Daerah

MENJAGA TRADISI DALAM BERKESENIAN YAYASAN JAYA SWARA PURA DALEM ULUNSUAN DIRESMIKAN

Published

on

Gatra Dewata | Denpasar | Pelestarian sebuah tradisi  adalah  upaya  pelindungan,  pengenalan, pengembangan,  dan pemanfaatan  suatu kebiasaan dari kelompok  masyarakat  pendukung kebudayaan yang berguna untuk kelangsungan hidup suatu kelompok sosial masyarakat untuk mencapai kesejahteraan sesuai ajaran catur purusa artha, yaitu Dharma, Artha, Kama, Moksana sarira sadhanam.

Dharma yang berarti berbudi pekerti luhur, Artha yang berarti Kekayaan yang diberdayagunakan untuk kebaikan, Kama yang berarti keinginan manusia sesuai dengan kebenaran dan kebijaksanaan, Moksa yang berarti kebebasan atau kebahagiaan abadi. Itu bisa terjadi bila ketiga yang diatas, Dharma, Artha, Kama sudah terlaksana dan berjalan dengan baik.

Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan yang berdiri di Jalan Imam Bonjol Gang Ulunsuan, Banjar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat diresmikan Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, SH, Pada hari Minggu (02/02).

Yang akan bertanggung jawab kedepan adalah Ketua Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan A.A. Putra Juni Adi, ST, yayasan yang didirikannya ini juga sudah mengantongi izin dari Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: AHU-0010503.AH.01.04.Tahun 2019.

“Tujuan kami membentuk Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan adalah untuk tetap bisa menjaga tradisi dalam berkesenian. Bahkan untuk bisa menopang kegiatan-kegiatan yang ada di Pura Dalem Ulunsuan dengan terus bisa mengadakan pelatihan untuk kepemangkuan dan mengadakan serati banten,” ujar Beliau kepada kami.

Dengan diresmikannya Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan bahwa kedepannya akan mampu lebih meningkatkan kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melaksanakan yadnya (pelayanan) kedepannya.

“Berawal dengan kegiatan di sanggar tari, peresmian yayasan juga bertepatan dengan peresmian sanggar tari Seraya Taksu. Dimana semuanya ini tidak terlepas dari pengembangan seni dan budaya,” ucap Putra Adi.

Agung Putra Adi Menjelaskan bahwa melalui sanggar tari akan mampu mengajak generasi muda berkesenian, khususnya tari, tabuh, kawitan dan mekidung.

“Memang kita Sadari betul bahwa berbagai kegiatan memerlukan biaya. Untuk biaya awal pelaksanaan kegiatan kami sudah ada dana kas awal, namun tidak menutup kemungkinan kerjasama dengan pemerintah daerah Bali maupun swasta untuk dukungan pendanaannya,” terangnya.

Kepala bidang (Kabid) Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Dwi wahyuning kristiansanti terlihat ikut hadir meresmikan Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan,

“Dalam memperjuangkan sesuatu petunjuk dari pak Walikota adalah kita harus mampu kere tetapi aktif, yang artinya kita harus mampu bergerak aktif walau dalam keterbatasan, baik dana maupun prasarana yang terbatas”, terangnya.

Keagamaan tidak termasuk dalam pembinaan kami di Dinas bidang kesenian Kebudayaan Kota Denpasar tetapi, kebudayaan juga tidak bisa terlepas dari sisi Keagamaan kita di Bali

“Pertanyaan mengenai soal keagamaan mungkin bisa ditanyakan ke pada PHDI”, ujar kabid kesenian yang akrab dipanggil wiwid ini.

Pengempon Anak Agung Bagus Wirata, dan mangku

Anak Agung Bagus Wirata seorang pengempon Pura Dalem Ulunsuan bercerita tentang sejarah, sebagai pemangku pura beliau juga dipercaya sebagai pembina yayasan.

Beliau pertama merehab pura ini ditahun di tahun1950, pengempon pura ada 40 kk (kepala keluarga) tapi yg bertanggungjawab adalah 3 Kk (kepala keluarga) diupacarai setiap 6 bulan sekali.

“Untuk memperlancar itu semua saya bersusah payah dari dulu, karena tidak cukup hanya biaya saja juga dengan tenaga”, beber Beliau.

Modal awal yayasan diambil dari dana kepemangkuan sebesar 50 juta sebagai dana awal yayasan. Kegiatan yang mesti digulirkan untuk pertama kalinya,

“Melatih harus ada snack, minimal ada uang lima juta untuk pertama kali, dan kedepan mungkin kita akan meminta bantuan kepada orang tuanya dan kedepan meminta bantuan kepada pemerintah agar kedepan tidak membebani yayasan dan orangtua”, terang beliau.

Dalam pura yang di empon itu terdapat pelinggih Dalem Mekah, Dalem cina, Dalem solo, dalem keluhuran majapahit, dan ada beberapa pelinggih lagi. (Ray)

Continue Reading

Daerah

GELAR RITUAL NANGLUK MERANA UNTUK CEGAH VIRUS CORONA SECARA NISKALA

Published

on

Gatra Dewata | Karangasem | Indonesia bahkan dunia lagi mewaspadai secara serius terhadap ancaman Virus Corona yang menyebar dari negara Tirai Bambu sana.

Budaya Bali tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya cina, oleh sebab itu pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Karangasem berencana menggelar sebuah upacara Nangluk Merana.

Upacara ini akan dilaksanakan di Pura Penataran Agung Desa AdatPadang Bai, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali.

Persembahyangan yang akan dilakukan oleh umat Hindu di Bali ini dilakukan hari ini Rabu (29/1) sekitar pukul 09.00 Wita, upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan Bali agar dijauhkan dari hal-hal yang negatif atau untuk menolak bala berupa penyakit, atau hama tanaman pokok yang bisa mempengaruhi kehidupan manusia.

Untuk kali ini permohonan ini dilakukan dan dimohonkan untuk mengantisipasi virus Corona masuk ke Karangasem, upacara ini sebenarnya rutin diadakan setiap tahun sekali oleh pemda karangasem.

“Saya telah memberikan perintah kepada Kabag Kesra guna meminta dewasa (hari baik) kepada Ida Pedanda Gede Wayan Pasuruan dari Gria Kawan Sibetan,” terang Bupati Karangasem, Gusti Ayu Mas Sumatri, Selasa (28/1).

Petunjuk yang diberikan, ritual Nangluk Merana dapat dilakukan, Rabu (29/1/2020), tepatnya Buda Wage Wuku Warigadean dan rencananya proses ini akan dipuput Sulinggih Siwa Budha yakni Ida Pedanda Gede Wayan Tianyar & Ida Pedande Gede Nyoman Jelantik Dwaja.

Bupati menghimbau seluruh masyarakat karangasem dan semua pejabat pemerintahan di Karangasem untuk ikut hadir dan melaksanakan (bagi pemeluk Hindu) upacara tersebut dengan memakai busana adat persembahyangan Bali. (Ray)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam